Naturalisme
adalah sebutan untuk diberikan kepada pandangan filosofis yang memberikan suatu
peranan menentukan atau bahkan suatu peranan eksklusif kepada alam. Naturalisme
juga memiliki sifat hukum alam dengan ciri kualitatif dan ciri kuantitatif.
Ciri kualitatif yaitu suatu ciri yang melekat pada gejala alam dan muncul pada
berbagai masa perkembangan alam. Sedangkan ciri kuantitatif merujuk pada
kenyataan bahwa gejala alam memiliki besaran tertentu yang dapat dihitung dan
dapat diukur secara sistematis.[1]
Dalam
naturalisme terdapat beberapa ajaran, antara lain: Monoistik,
Antisupernaturalistik, Ilmiah, dan Humanistik. Monoistik mengajarkan bahwa alam
adalah satu-satunya kenyataan. Alam adalah abadi, bekerja sendiri, memenuhi
dirinya sendiri, bergantung pada dirinya sendiri. Alam tidak transenden. Alam
tidak ada reinkarnasi.[2]
Antisupernaturalistik
mengajarkan semua gejala dapat dijelaskan berdasar pada saling hubungan yang
inheren dari peristiwa-peristiwa alami. Tidak ada kenyataan kecuali proses
dalam ruang dan waktu. Tidak ada sebab-sebab yang bukan alami. Alam memiliki
strukturnya sendiri.[3]
Menurut
ajaran ilmiah, Gejala-gejala alam dapat secara memadai dijelaskan dengan meningkatkan
metodologi ilmu. Semua gejala dalam prinsipnya dapat dijelaskan dengan
metode-metode ilmiah. Semua gejala dapat dapat dijelaskan dalam metodologi
ilmiah. Pengetahuan dapat diperoleh hanya dengan metodologi ilmu yang
logis-empiris. Intuisi, pengalaman, mistik, kepercayaan, dan wahyu ditolak
sebagai sarana untuk mengantarkan pada kebenaran.[4]
Humanistik
mengajarkan bahwa kemanusiaan adalah salah satu dari banyak manifestasi alami
dari alam semesta. Kodrat etis dan estetik manusia memiliki dasar pada
gejala-gejala alami. Nilai-nilai dibuat oleh manusia tetapi secara realistik
berdasarkan pada keadaan-keadaan alam. Nilai-nilai tidak memiliki sumber atau
sanksi.[5]
Kosmologi
dianggap sebagai pendahulu ilmu pengetahuan alam. Istilah kosmologi sering dilawankan
dengan kata chaos (ketiadaan bentuk). Dalam mitologi Yunani, chaos
diyakini sebagai makhluk hidup pertama. Keyakinan mistis tersebut mendapat
tentangan luas di Ionia. Para pemikir Ionia mengatakan bahwa terdapat
keteraturan dalam pergerakan alam yang memungkinkan manusia untuk mempelajari
rahasia-rahasia tersembunyi di dalamnya.[6]
Dalam
membentuk pemahaman, kosmolog mengusulkan bahwa sejarah alam semesta telah
diatur sepenuhnya oleh hukum-hukum fisika. Teori alam semesta tersebut, pertama
kali diusulkan oleh Roger Bacon.[7]
Berbicara
tentang filsafat naturalisme, berarti membicarakan juga kosmologi. Naturalisme
dan kosmologi adalah dua hal yang sangat berkaitan. Pada zaman Yunani kuno,
kosmologi menjadi bagian yang dijadikan sebagai keyakinan mengenai keberadaan
alam semesta. Kosmologi sendiri merupakan istilah yang melekat pada pengkajian
tentang alam semesta.
Untuk
mengetahui bagaimana cara berpikir dan cara bekerja, banyak pandangan-pandangan
yang berbeda dalam menginterpretasikannya. Salah satu di antaranya pandangan
menurut Bakker, dalam filsafat naturalisme terdapat sekurang-kurangnya tiga
metode yang penting. Pertama, metode kritis yang membicarakan bermacam-macam
teori ilmiah filosofis dengan menyelidiki konsistensi intrinsik pada teori-teorinya
yang disesuaikan dengan teori ilmu khusus dan menggunakan pengalaman hidup
sehari-hari disertai teknik-teknik kritis.[8] Kedua,
metode fenomenologi yang merefleksikan gejala-gejala hidup sehari-hari sejauh
disadari oleh subyek. Di dalam fenomena yang terbatas dan tercatat diusahakan
membaca sekali pengalaman asli dan fundamental yang tersembunyi di dalamnya. Ketiga,
metode transendental yang bertitik tolak dari fenomena manusiawi yang paling
sentral yaitudari fakta kegiatannya.
Pendapat
lain mengatakan bahwa urutan cara kerja ilmu alam adalah melalui pemikiran
dilanjutkan dengan hipotesa, perluasan dan perincian hipotesa, dari hipotesa
menuju hukum alam, dari hukum alam maka menghasilkan teori ilmiah.[9]
Pendapat tersebut dimungkinkan terjadi, sebab filsafat naturalisme merupakan
pemikiran yang tidak bisa terlepaskan dari alam.
Cara
kerja tersebut juga digunakan oleh para filosof Yunani kuno untuk
mengidentifikasi alam semesta, tentang bagaimana asal-usul terbentuknya alam
semesta. Juga tentang eksistansialisme alam semesta ini.
Filosof
alam pertama yang mengkaji tentang asal-usul alam adalah Thales yang mengatakan
asal alam adalah air, karena air adalah unsur penting bagi setiap makhluk
hidup. Air dapat berubah menjadi gas, uap, dan es. Menurutnya, bumi juga berada
di atas air.
Sedangkan
Heraklitos mempunyai kesimpulan yang mendasar tentang alam semesta, api sebagai
aktor penyebabnya.[10]
Api adalah aktor pengubah dalam alam karena api bisa melelehkan es dan
mengembangkan udara. Menurutnya, bumi berisi api yang selalu menyala untuk
mengembangkan bumi.
Pythagoras
juga berpendapat bahwa bilangan adalah unsur utama dari alam dan sekaligus
menjadi ukuran. Unsur bilangan merupakan unsur yang terdapat dalam segala
sesuatu. Unsur-unsur bilangan itu adalah genap dan ganjil, terbatas dan tidak
terbatas.
[1].
http://rayonkusurgaku.blogspot.com/2010/10/cara-kerja-ilmu-alam.html
[2].
Ali Mudhofir, Teori dan Aliran dalam Filsafat dan Teologi, (Yogyaakarta:
Gadjah Mada University press, 1996), 150 – 151.
[3]. Ibid.,
151.
[4]. Ibid.,
151.
[5]. Ibid.,
151.
[6].
http://rayonkusurgaku.blogspot.com/2010/10/cara-kerja-ilmu-alam.html
[7].
http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2095567-pengertian-kosmologi/#ixzzluqpp2nde
[8]. http://sabdakhairuss.blogspot.com/2012/05/filsafat-alam-kosmologi.html
[9].
http://zharfan29.blogspot.com/2011/04/cara-kerja-ilmu-alam-dalam-filsafat.html
[10].
http://id.shvoong.com/humanities.philosophy/2130961-filsafat-pada-zaman-yunani/#ixzzlur0kuABp